Dongeng Putri sarang Burung Pallas
Baruni
Tersebut sepasang suami istri yang hidup bahagia di
sebuah dusun kecil. Dusun itu terletak di dataran tinggi Birang daerah Gunung
Tabur (Berau). Mereka hidup dari bertani, berburu, serta memancing ikan. Sang
suami selalu membawa hasil jika pulang dari berburu atau memancing.
Pada suatu hari, si suami bermaksud
memancing ke sebuah anak sungai. Sepeninggal si suami, si istri pergi pula
tanpa sepengetahuan suaminya. Ia pergi memasuki hutan dan mendaki bukit menuju
gua yang terletak di sana.
Setelah memperoleh banyak sekali
ikan besar. Si suami berniat pulang. Ia merasa senang dengan hasil pancingannya
sehingga ia berteriak memanggil istrinya dari jarak jauh. Akan tetapi, si istri
tidak menjawab panggilan itu. Si suami menjadi khawatir jika terjadi sesuatu
atas diri istrinya. Karena tidak pernah istrinya pergi tanpa izin. Rasa cemas
dan khawatir itu seketika hilang ketika istrinya datang. Si istri naik ke rumah
dengan wajah berseri-seri sambil membawa sarang burung putih yang besar-besar
dan bersih.
Setelah duduk, si suami bertanya
kepada si istri mengenai kepergiannya yang begitu lama. Istrinya hanya tertawa
tidak menjawab pertanyaan si suami. Seperti ada sesuatu yang ia rahasiakan.
Sebenarnya, ia memang tidak boleh memberitahukan hal itu kepada siapapun,
termasuk kepada suaminya. Karena pertanyaannya tidak dijawab, sang suami merasa
tersinggung. Akan tetapi, ia tidak mau bertengkar dengan istrinya.
Pada suatu hari, si suami pergi
berburu. Kesempatan ini digunakan si istri untuk pergi lagi ketempat sarang
burung.setelah cukup banyak mendapat sarang burung. Ia pun pulang. Kali ini si
suami tidak dapat menahan marah karena istrinya tetap merahasiakan bagaimana
caranya dan dimana ia memperoleh sarang burung itu.
Keesokan harinya, si suami berkata kepada istrinya
akan pergi berburu. Sebenarnya, kepergiannya
bukan untuk berburu. Tetapi menyelediki dimana istrinya mendapatkan
sarang burung. Sehari penuh ia menjelajahi gua-gua di gung yang ada di daerah
itu, namun sarang burung itu tidak dijumpainya.
Malam harinya ia berkata kepada
istrinya, “kita sudah lama menjadi suami istri dan hidup dengan sudah menjadi
suami istri dan hidup dengan damai, tidak pernah bertengkar. Tetapi, kali ini
aku tidak mengerti mengapa engkau merahasiakan suatu. Padahal hal-hal yang
lebih penting dari ini tidak pernah kaurahasiakan kepadaku.”
Jawab istrinya, aku tidak pernah
menyimpan rahasia terhadapmu. Namun, untuk satu hal ini, maafkanlah aku karena
aku tidak dapat menjelaskan kepadamu. Jika kauketahui hal ini, aku takut
menghadapi kenyataan, jodoh kita akan akan berakhir. Suatu malapetaka pasti
memisahkan kita berdua.